← Semua Artikel Pajak Bisnis

Jenis Pajak Penghasilan: PPh 21, 22, 23, 25, 29, dan Final yang Wajib Diketahui

Panduan jenis pajak penghasilan, mulai dari PPh 21, 22, 23, 25, 29, hingga pajak final, lengkap dengan konsep dasar, subjek, dan hubungannya dengan NPWP.

Gambar artikel Jenis Pajak Penghasilan: PPh 21, 22, 23, 25, 29, dan Final yang Wajib Diketahui

Jenis pajak penghasilan yang berlaku di Indonesia terbagi menjadi beberapa kategori sesuai subjek, objek, dan mekanisme pemotongan. Memahami setiap jenis PPh membantu wajib pajak, baik pribadi maupun badan, untuk memenuhi kewajiban perpajakan dengan benar dan menghindari sanksi akibat kekeliruan pelaporan.

Ringkasan cepat

  • Jenis utama: PPh 21 (karyawan), PPh 22 (badan tertentu), PPh 23 (jasa), PPh 25 (angsuran), PPh 29 (kurang bayar), dan PPh Final.
  • Setiap jenis memiliki subjek, objek, tarif, dan mekanisme pemotongan yang berbeda.
  • Pelaporan dilakukan melalui DJP Online atau Coretax DJP.
  • Konsultasi jenis PPh dapat dilakukan lewat Kring Pajak 150200.
  • Pelajari dasar-dasarnya di NPWP adalah sebelum mengelola PPh.

Mengenal PPh 21: Pajak atas Penghasilan Karyawan

PPh 21 adalah pajak yang dipotong atas penghasilan karyawan, pejabat, atau penerima penghasilan lain yang memiliki hubungan kerja dengan pemberi kerja. Pemotongan dilakukan setiap bulan oleh perusahaan dan dilaporkan ke DJP melalui bukti potong.

Komponen PPh 21 meliputi gaji pokok, tunjangan tetap dan tidak tetap, bonus, THR, dan benefit lain. Penghitungan PPh 21 memperhitungkan PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) yang disesuaikan dengan status WP, misalnya TK/0, K/1, K/2, dan seterusnya. Untuk WP baru, pastikan NPWP sudah ada sebelum pemotongan agar tarif yang digunakan sudah sesuai.

PPh 22: Pajak atas Badan Usaha Tertentu

PPh 22 adalah pajak yang dipungut atas transaksi penjualan barang oleh badan usaha tertentu, seperti importir, distributor, atau badan usaha yang bergerak di bidang ekspor. PPh 22 juga dipungut atas pembelian barang oleh pemerintah melalui mekanisme e-purchasing.

Subjek PPh 22 biasanya adalah badan usaha yang memiliki API atau izin serupa. Besaran tarif bervariasi, mulai dari 0,5% hingga 7,5% tergantung sektor. WP yang melakukan transaksi dengan pemungut PPh 22 akan menerima bukti potong yang kemudian dikreditkan dalam SPT Tahunan.

PPh 23: Pajak atas Dividen, Bunga, Royalti, dan Jasa

PPh 23 dipotong atas dividen, bunga, royalti, hadiah, dan imbalan jasa. Berbeda dengan PPh 21 yang fokus pada penghasilan karyawan, PPh 23 terkait dengan transaksi antara dua badan usaha atau antara badan usaha dengan WPOP yang memiliki kegiatan usaha.

Tarif PPh 23 umumnya 2% untuk dividen, bunga, royalti, dan hadiah, sedangkan jasa tertentu bisa berbeda tergantung kategori. Pemotong wajib memberikan bukti potong PPh 23 kepada pihak yang dipotong agar bisa dikreditkan dalam SPT.

PPh 25: Angsuran Pajak Bulanan

PPh 25 adalah angsuran pajak yang dibayar sendiri oleh WP setiap bulan sebagai bagian dari PPh Terutang tahun berjalan. Angsuran ini dihitung berdasarkan SPT Tahunan tahun sebelumnya atau perhitungan tertentu saat WP baru terdaftar.

Besaran angsuran PPh 25 bisa berubah setiap tahun setelah WP menyampaikan SPT Tahunan. Perubahan ini biasanya diumumkan oleh DJP melalui SPT atau notifikasi di DJP Online. WP yang telat bayar angsuran PPh 25 akan dikenai sanksi bunga sesuai ketentuan.

PPh 29: Pajak Kurang Bayar

PPh 29 adalah pajak kurang bayar yang harus dilunasi WP setelah menyampaikan SPT Tahunan. Besarannya adalah selisih antara PPh terutang dengan kredit pajak yang sudah dipotong atau dipungut pihak lain.

Pelunasan PPh 29 dilakukan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan. Jika tidak dilunasi, DJP akan mengenakan sanksi sesuai peraturan. Untuk WP yang lebih bayar, kelebihan tersebut akan menjadi pajak lebih bayar yang bisa diminta kembali melalui restitusi atau dikompensasikan ke masa pajak berikutnya.

PPh Final: Pajak dengan Tarif Tetap

PPh final adalah pajak yang penghitungannya menggunakan tarif tetap atas penghasilan tertentu, seperti sewa tanah/bangunan, UMKM dengan omzet di bawah ambang batas, transaksi saham, dan jasa konstruksi. Karena sifatnya final, pajak ini tidak bisa dikreditkan ke PPh terutang akhir tahun.

Skema PPh final memberikan kepastian bagi WP, baik dari sisi perhitungan maupun pelaporan. Untuk UMKM, tarif final yang sederhana sangat membantu pencatatan keuangan, asalkan omzet tidak melewati ambang batas yang ditentukan.

Hubungan PPh dengan NPWP

Setiap jenis PPh terkait dengan NPWP, baik sebagai identitas pemotong, pemungut, maupun pihak yang dipotong. Kesalahan data NPWP akan membuat bukti potong tidak valid dan pengkreditan pajak di SPT menjadi terkendala.

Untuk badan usaha, NPWP yang valid memastikan transaksi PPh 23, PPh 22, dan PPh 25 tercatat dengan baik. Untuk WPOP, NPWP yang valid menjamin tarif PPh 21, PPh 25, dan PPh Final sudah benar. Karena itu, sebelum menjalankan kewajiban PPh apa pun, pastikan NPWP Anda aktif.

Tips praktis mengelola jenis PPh

  • Identifikasi terlebih dahulu jenis PPh yang relevan dengan aktivitas Anda.
  • Simpan bukti potong PPh 21, 22, dan 23 dengan rapi setiap bulan.
  • Bayang PPh 25 tepat waktu agar tidak kena sanksi bunga.
  • Hitung PPh 29 setelah SPT Tahunan selesai dan lunasi sesuai batas waktu.
  • Manfaatkan aplikasi perpajakan resmi DJP untuk mempermudah perhitungan.

Untuk badan usaha dengan transaksi kompleks, pertimbangkan untuk menggunakan software akuntansi yang sudah terintegrasi dengan kanal pelaporan DJP. Dengan cara ini, bukti potong, SPT, dan pelunasan bisa lebih terkontrol.

FAQ tentang Jenis Pajak Penghasilan

Apakah setiap penghasilan selalu kena PPh?

Tidak selalu. Ada beberapa jenis penghasilan yang tidak termasuk objek PPh, seperti sumbangan, hibah, dan penghasilan tertentu yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh.

Bagaimana jika saya hanya memiliki NPWP pribadi?

NPWP pribadi cukup untuk memenuhi kewajiban PPh 21, 25, dan PPh Final sepanjang Anda hanya menjalankan kegiatan sebagai pribadi. Untuk badan usaha, NPWP badan terpisah wajib dimiliki.

Apakah bukti potong PPh 23 dari rekanan bisa dikreditkan?

Bisa, sepanjang bukti potong diterbitkan dengan NPWP yang valid dan sesuai transaksi. Simpan bukti potong sebagai lampiran SPT.

Kapan PPh Final tidak boleh dipilih?

PPh Final biasanya tidak cocok untuk WP dengan omzet di atas ambang batas atau transaksi bernilai besar. Penghitungan ulang PPh progresif bisa jadi lebih menguntungkan.

Apakah konsultan pajak diperlukan untuk mengelola PPh?

Untuk WP pribadi dengan penghasilan sederhana, konsultan belum tentu wajib. Namun untuk badan usaha dengan transaksi kompleks, konsultan sangat membantu mengurangi risiko sanksi.

Penutup

Memahami jenis pajak penghasilan adalah pondasi utama sebelum mengelola administrasi pajak. PPh 21, 22, 23, 25, 29, dan Final memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi. Dengan pemahaman yang baik, Anda bisa menjalankan kewajiban perpajakan dengan tenang. Untuk konsultasi jenis PPh dan integrasi dengan NPWP, Legalitas.info siap membantu.

Butuh bantuan langsung? Jasa Pembuatan NPWP Badan →

Butuh bantuan mengurus legalitas usaha?

Konsultasikan kebutuhan NPWP, NIB, KBLI, OSS, LKPM, atau legalitas usaha lainnya bersama Legalitas.info.

Konsultasi via WhatsApp